Iklan display 1

Aku Pernah Porak-Poranda

 

 



Minggu lalu, aku membaca
Sebuah tulisan pada buku "Hai Nak!"
Karya Reda Gaudiamo.
Bunyinya:


Hai Nak,
Nggak semua badai itu datang
untuk bikin porak-poranda hidup kita.
Ada yang datang khusus untuk membantu
kita beberes, bersih-bersih, 
buang yang tak berguna, dan siap-siap
untuk sesuatu yang lebih bagus,
lebih indah, dan lebih menyenangkan.

Beneran deh,


Tulisan itu related
sangat related malahan.
Pernah engga sih, kita ngerasa
ujian/hal pahit dalam hidup bikin kita
porak-poranda?
Ngebuat kita ngejalanin hari tuh
berat banget rasanya. 

Rasanya kayak Tuhan engga ada
dipihak kita. Rasanya kayak sia-sia
banget kita berdoa.
Pernah? Pasti pernah kan?

Aku pernah ada di fase itu.
Saat itu, Tuhan lagi ngasih aku badai
yang besar.
Karenanya, aku ngerasa lagi di titik 
terendah dalam hidup.

Badai itu seakan ngedorong aku
dari tepian ke dasar jurang
paling bawah. Selama itu, aku merasa
babak belur. Dihantam sana 
dihantam sini. Dihujani sisa batuan tepian
bertubi-tubi. 

Ratusan goresan yang menanda
di sekujur tubuh. 
Sakit yang tak main-main. 
Karena badai itu, aku jadi kehilangan 
banyak hal.
Kepercayaan, rasa aman, kepercayaan diri, kasih sayang, dan mental.

Aku bertanya, kenapa Tuhan ngasih aku badai sebesar ini?
Kenapa harus aku?
Kenapa harus pundakku?
Saat itu aku tak menemukan jawaban selain luka dan rasa sakit. 

Beberapa tahun, aku pelan pelan
pulih dari badai itu. Baru setahun setelahnya aku mendapat jawabannya.
Sederhana sekali. 
Badai yang Allah kasih ke aku, yang buat aku porak-poranda setengah mati, ternyata untuk bantu aku beberes. 
Badai itu bantu aku nyingkirin yang bisa ngacurin harapan dan impian aku. 

Allah sengaja matahin hati aku, karena cuma itu cara-Nya agar aku sadar, 
kalau apa yang aku lakukan saat itu
ngga bagus untuk aku kedepannya. 
Mungkin kalau Allah ngga ngasih badai itu, aku engga bisa ada di jalan yang sekarang. 
Badai itu memberi aku ahir yang lebih indah, lebih bagus, dan menyenangkan.

Badai yang dalam hidup terasa pahit setengah mati,
Sesak sekali menjalaninya,
Membuat hancur dan kehilangan banyak hal, justru cara baik Allah untuk
buat hidup kita jauh lebih baik. 

Bukannkah Allah tidak pernah salah dalam menaruh ujian kepada hambaNya?
Bukankah setiap pundak yang dikenai, artinya mampu dan sanggup?

Kalau hari ini kita buntu dalam temu jawabannya. Mungkin dikemudian hari 
kita akan menyadari dan berterimakasih, 
Kalau badai itu beneran bantu kita, bantu nyingkirin kita dari orang yang salah. 
Atau bantu nyingkirin kita dari jalan yang sesat. 

Pandangan kita terbatas, juga akal dan kemampuan kita. Allah yang lebih tahu. 
Jadi, kalau hari ini badainya terasa pahit, percaya saja pada takdir Allah. 
Mungkin badai itu bantu kita bebenah untuk menyambut yang lebih indah. 

Semoga bermanfaat





Fika salsabila Fika azlia salsabila

Belum ada Komentar untuk "Aku Pernah Porak-Poranda"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2