Iklan display 1

Pengalaman Jadi Ibu Guru


Hai, aku Fika. Terimakasih sebelumnya sudah mau mampir di laman blogku. Ditulisanku kali ini, aku mau berbagi cerita tentang pengalaman menjadi ibu guru. Semoga tulisanku bermanfaat ya. 

Seorang guru sudah pasti memiliki tugas mengajar para siswa di sekolah. Setiap hari, para siswa belajar dan mengambil pelajaran dari guru. Maka seorang guru dituntut menjadi tauladan bagi siswa. 

Konsep tersebut pastilah semua orang setuju. Tapi setelah menjadi ibu guru, ternyata ada lho hal yang seringkali luput dari pandangan banyak orang. 

Guru sejatinya bukan hanya memberi, tapi juga menerima. Guru sejatinya bukan hanya mengajar, tapi juga diajar. Siswalah yang memberi dan mengajarkan hal yang luput itu. 

Seperti salah seorang muridku. Sekolah ku masih baru, jadi ada beberapa kegiatan yang mengharuskan jenjang SD dan Paud digabung. Hari itu adalah hari olahraga, di mana kegiatan sekolah dialihkan menjadi bersepeda di halaman masjid dekat taman kota. 

Ternyata saat itu, masjid tersebut lepas mengadakan kegiatan yang menyisakan banyak balon. Bapak yang membersihkan masjid, memberi salah seorang muridku banyak balon yang terikat menjadi satu. Saat itu salah satu adik kober juga menginginkan balon tersebut.

Aku menyuruh muridku untuk meminjamkan sebentar balon itu, karena susah sekali untuk membuka ikatan balon tersebut kalau mau dibagi. Ternyata, muridku justru berusaha membuka ikatan balon tersebut dan membaginya kepada adik kober. 

Aku terdiam sejenak melihat kejadian itu. Itu momen kecil namun memberiku satu pelajaran. Kejadian itu bukan soal balon, tapi soal hati. Aku hanya meminta dia untuk "meminjamkan". Tapi dia memilih melakukan lebih. Dia "melepaskan" ikatan balon yang kita anggap susah dan ribet. Namun baginya, kebutuhan adik kober itu lebih penting dari kenyamanan dirinya. 

Ia tidak hanya berbagi benda, tapi ia juga berbagi kendali. Membuka ikatan balon, artinya ia siap kehilangan keteraturan demi kebahagian orang lain. Di mana kebanyakan anak masih tinggi sikap egoistiknya. 

Aku hanya meminta dia meminjamkan balon. Tapi dia mengajarkan aku arti memberi tanpa syarat. Jujur kalau kejadian itu diingat aku masih terenyuh saat mengingatnya. Perbuatannya si sepele, tapi ada lho nilai yang dia ajarkan kepada kita, yang mungkin seringkali sebagai orang dewasa kita abaikan. 



Selain kejadian balon ada lagi lho yang buat aku terenyuh. Jadi aku punya salah seorang murid, yang awalnya kalau abis makan sisa nasi dan lauk nya berceceran. Awalnya ketika aku ajarin untuk beresin, dia engga mau nurut dan langsung cusssss main. 

Tapi sebagai guru, aku selalu ajarin kalau habis makan sisa makanan harus dibersihkan. Itu sebagai bentuk tanggung jawab dan menjaga kebersihan. Proses nya ngga cepet, butuh waktu berbulan bulan untuk membentuk kebiasaan itu.  

Hal yang buat aku terenyuh tuh adalah ketika melihat muridku, ahirnya bisa mandiri membereskan tanpa perlu aku suruh. Dan ibunya bilang, kalau anaknya juga membereskan bekas makannya di rumah. 

Ini bukan soal kerapihan semata, ini soal tanggung jawab anak terhadap apa yang seharusnya ia lakukan. Dan hari ini, kebiasaan itu sudah ikut pulang kerumahnya. 

Dari situ aku menyimpulkan, bahwa pendidikan tidak selalu menunjukkan hasilnya saat kita menunggu. Ia datang belakangan, pelan, dan seringkali lewat cara yang tak terduga. Ada pelajaran yang tidak langsung tumbuh, tapi diam diam menetap. 
Bukan hanya di hati murid, tapi pelajaran itu juga tumbuh di hati guru. Kita saling memberi dan menerima. 

Tidak ada guru yang langsung mahir mengajar. Tapi semua guru tumbuh dalam proses bersama murid. 





Fika salsabila Fika azlia salsabila

Belum ada Komentar untuk "Pengalaman Jadi Ibu Guru"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2