Iklan display 1

Dia yang Abu

 



Kali ini, aku berdiri sangat lama
Pada sebuah persimpangan jalan.
Mataku mulai mengabut, namun
lama-lama menjadi abu. 
Aku tak bisa melihat, bagaimana 
rupa jalan di depan sana. 

Juga tak bisa meraba, karena keraguan 
yang mulai memenuhi ruang tanyaku. 
Kakiku mulai memanas,
Meminta segera berputar arah. 

Tapi sayang, hatiku masih ingin tahu.
Apakah jalan di depan bisa membawaku
tanpa rintangan??
Apakah jalan di depan buntu?
Apakah jalan di depan bisa menjadi 
jalan favoritku?

Tak ada pilihan lain, selain menunggu
Kabut abu yang menutupi pandangan.
Hanya diam.
Tak melakukan apapun. 

Harapan-harapan semu mulai kugantungkan pada jalan itu. 
Sebab secercah siluet menerpa hatiku.
Sayangnya, cuma sepersekian detik, lenyap. Menyisakan kabut abu yang masih menebal. 

Sial, sial, sial. Pekikku.
Secercah siluet itu justru mematahkan kakiku, yang menjadi kekuatan utama 
untuk pergi.
Mataku memanas, menyisakan sunyi dan sebuah tamparan kesadaran. 

Jalan yang mengabut abu dan membuat bingung, tak perlu ditunggu, apalagi diraba.
Meski terseok-seok dengan harapan 
yang koyak, aku memutuskan 
berputar arah.
Mencari jalan lain, yang dapat aku 
lewati dengan hati yakin.

Benar memang, banyak jalan menuju Rhoma. Jika jalan itu merobek keyakinanmu, maka temukan jalan lain yang bisa kau lihat dan raba dengan penuh keyakinan. 

Pada jalan lain, aku bisa melihat 
jalan setapak yang sederhana. 
Tak ada yang melewatinya, hanya aku.
Jalan lain itu dipenuhi bunga-bunga
Harapanku, bermekaran laksana senyum dan ruang cintaku.

Ku tengok jalan abu itu, pada ahirnya
Jalan abu itu memudarkan abunya pada pejalan kaki yang dikehendaki.
Mengecup manis langit cerah di dalamnya. 
Jalan itu sudah dalam genggamnya.


Fika salsabila Fika azlia salsabila

Belum ada Komentar untuk "Dia yang Abu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2